
Terapi autis – Bulan Ramadan membawa perubahan yang sangat besar pada pola makan, tidur, hingga aktivitas harian. Pada sebagian anak, perubahan seperti ini akan terasa biasa saja. Namun tidak pula dengan anak autisme, terlebih lagi yang memiliki gangguan sensori, kondisi seperti ini bisa memberikan dampak yang sangat signifikan.
Anak autisme sering mengalami gangguan pemrosesan sensori. Yang berarti, otak anak autisme akan memproses rangsangan seperti sentuhan, cahaya, suara, bau, hingga rasa dengan cara yang berbeda. Ada yang begitu sensitif (hipersensitif), ada pula yang kurang peka (hiposensitif).
Baca juga : Mengembangkan Potensi Anak Retardasi Mental pada Tempat yang Tepat
Lantas, apakah puasa bisa memengaruhi kondisi sensori anak autis?
Berdasarkan pemahaman ilmiah dan secara logis tentang regulasi tubuh, haus, kondisi lapar, dan kurang tidur bisa memengaruhi sistem saraf. Pada anak autis, perubahan kecil dalam keseimbangan tubuh saja bisa memengaruhi sensitivitas terhadap rangsangan.
Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi selama berpuasa, seperti:
Bukan berarti puasa itu selalu memberikan dampak yang negatif. Sebagai orang tua juga harus memahami jika perubahan rutinitas itu bisa memicu respons sensori yang lebih kuat.
Agar gangguan sensori anak autis tetap terkendali dengan baik selama bulan Ramadan, ada beberapa langkah yang dapat membantu, seperti:
Kurang tidur bisa meningkatkan sensitivitas sensorik anak autis, jadi usahakan agar anak tetap mendapatkan waktu istirahat yang cukup meskipun harus bangun sahur setiap harinya.
Pastikan anak tetap mendapatkan nutrisi yang seimbang dan cairan yang cukup selama berpuasa. Karena, tubuh yang stabil akan membantu regulasi sistem saraf tetap optimal.
Berikan waktu sensory break di ruangan yang minim cahaya dan suara pada saat anak merasa kewalahan.
Apabila anak terlihat kurang nyaman atau stres yang berlebihan, tak mengapa untuk menyesuaikan durasi puasanya. Karena, kesehatan emosional dan fisik merupakan prioritas utama.
Gangguan sensori itu bukanlah kondisi yang dapat diabaikan, terutama saat sedang terjadi perubahan rutinitas seperti pada bulan Ramadan. Dibutuhkan intervensi yang tepat untuk membantu anak autis dalam mengelola respons tubuhnya dengan lebih baik.
Untuk orang tua yang sedang mencari tempat terapi ABK Bekasi yang tepat untuk anak autis tak dapat dilakukan sembarangan, karena harus benar-benar memahami pendekatan regulasi sensori. Rumah Terapi Medical Hacing di Bekasi cocok untuk dijadikan pilihan sebagai tempat pendampingan untuk anak autis maupun anak dengan gangguan sensori dan tumbuh kembang lainnya.
Rumah Terapi Medical Hacking di Bekasi hadir dengan berbagai program terapi yang memang dirancang secara khusus dan personal, serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak yang alami tanpa efek samping.
Dengan pendampingan yang tepat akan membantu anak untuk jadi lebih stabil dalam menghadapi perubahan rutinitas, termasuk saat anak autis menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Untuk mengetahui program terapi apa saja yang sesuai untuk anak Anda, silahkan klik banner di bawah ini.
Saat melihat anak merasa kewalahan karena mengalami gangguan sensori akan terasa menyakitkan hati. Apakah upaya yang dilakukan selama ini belum maksimal? Atau merasa gagal menjadi orang tua yang baik.
Anda tidak gagal, tetap kuat, tetap sabar, dan teruslah berusaha. Karena setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi fondasi besar bagi masa depan anak Anda. Bersama Medical Hacking, kita bisa mewujudkan masa depan anak yang gemilang.














