
Terapi anak autis ringan - Malam takbiran adalah sebuah tradisi yang sudah biasa dilakukan orang-orang di Indonesia sebelum hari Lebaran tiba. Biasanya di malam ini ada banyak acara seperti takbiran keliling pakai mobil atau jalan kaki, ada suara bedug yang dipukul keras, dan suara dari speaker atau pengeras suara yang sangat nyaring. Semua orang berkumpul di jalan untuk merayakan kemenangan setelah puasa satu bulan penuh.
Bagi banyak keluarga, ini adalah saat-saat yang menyenangkan. Tapi bagi anak yang punya kondisi autisme, suasana takbiran yang sangat ramai dan bising ini bisa jadi masalah yang berat. Kamu mungkin sering melihat ada anak yang mendadak jadi gelisah, menangis kencang, atau menutup telinganya rapat-rapat saat mendengar suara takbir di jalan. Hal ini terjadi karena anak autis punya sensitivitas sensorik yang berbeda.
Banyak anak dengan spektrum autisme itu sangat sensitif sama suara keras. Sistem saraf di tubuh mereka tidak memproses suara sama seperti orang lain. Suara bedug yang bergetar atau suara klakson motor yang bersahut-sautan bisa terasa sangat menyakitkan di telinga mereka.
Apalagi kalau suaranya datang tiba-tiba, itu bisa bikin anak jadi stres. Reaksi yang muncul biasanya anak akan
Sebenarnya itu adalah cara alami tubuh si anak untuk melindungi diri mereka sendiri karena otak mereka merasa menerima rangsangan yang terlalu banyak atau berlebihan.
Bukan cuma soal suara saja, malam takbiran juga penuh dengan lampu yang terang dan orang yang bergerak ke sana kemari. Kondisi ini disebut dengan sensory overload. Ini keadaan di mana otak anak kesulitan memproses semua hal yang terjadi di sekitarnya secara bersamaan. Akhirnya anak jadi merasa sangat kewalahan dan emosinya tidak stabil.
Selain itu, takbiran kan adanya malam hari. Padahal biasanya anak autis sudah punya jadwal tetap untuk istirahat atau tidur. Kalau rutinitas ini berubah, anak jadi gampang capek dan makin sensitif sama lingkungan sekitarnya. Kalau mereka kurang tidur, mereka jadi lebih mudah menangis atau marah kalau mendengar suara keras.
Baca juga Tips Lebaran untuk Anak Autis dengan Sensory Processing Disorder
Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan supaya anak tetap merasa tenang
Anda harus menjelaskan dulu kepada anak kalau nanti malam akan ada suara keras dari takbiran. Memberitahu lebih awal membantu mereka bersiap secara mental.
Cari tempat yang tidak terlalu dekat dengan jalan raya atau pusat keramaian kalau ingin mengajak anak melihat suasana malam lebaran.
Gunakan alat bantu seperti earmuff atau penutup telinga biar suara kerasnya berkurang.
Perhatikan tanda-tanda kalau anak mulai tidak nyaman. Kalau anak sudah mulai gelisah, segera bawa pulang ke tempat yang sepi.
Anda jangan memaksakan anak untuk ikut takbiran kalau memang anak terlihat sangat tertekan.
Setiap anak itu beda-beda kemampuannya dalam menahan rasa tidak nyaman. Anda bisa memilih untuk takbiran di rumah saja agar anak tetap merasa aman dan nyaman tanpa harus stres karena suara bising di luar.
Kalau Anda merasa anak sering kesulitan mengendalikan emosi saat ada di keramaian atau sangat sensitif sama suara, mungkin anak butuh bantuan untuk melatih respon sensoriknya. Terapi yang tepat bisa membantu anak agar tidak terlalu kaget atau sakit saat mendengar suara-suara tertentu.
Medical Hacking punya layanan terapi yang fokus untuk membantu anak dengan masalah gangguan sensorik, hiperaktif, atau masalah emosi lainnya. Jika Anda ingin anak bisa lebih tenang dan nyaman di situasi sosial yang ramai, melakukan konsultasi adalah langkah yang baik. Dengan bantuan yang benar, anak bisa belajar mengelola apa yang dia rasakan sehingga hidupnya lebih nyaman. Oh ya, Medical Hacking juga telah membuka tempat terapi autis jakarta jadi bagi siapa saja yang membutuhkan layanan terapi terkait, silahkan konsultasi langsung bersama medical hacking!!














