
Terapi Autis - Suara petasan sering sekali ada kalau lagi suasana perayaan, apalagi pas mau Lebaran atau acara meriah lainnya. Tapi buat sebagian anak dengan autisme, suara petasan itu bisa jadi hal yang sangat menakutkan buat mereka. Ada banyak anak autis yang langsung tutup telinga, menangis, sembunyi, atau malah jadi meltdown pas dengar suara petasan yang keras dan muncul tiba-tiba.
Kondisi ini sering bikin orang tua jadi merasa khawatir, terutama kalau anak kelihatan sangat ketakutan dan susah buat ditenangkan. Buat memahami masalah ini, sangat penting buat orang tua tahu kalau sensitivitas sama suara itu adalah salah satu ciri yang sering ada pada anak dalam spektrum autisme.
Banyak anak autis punya sensitivitas sensorik yang tinggi, apalagi kalau urusan suara. Suara yang mungkin buat orang lain itu biasa saja, tapi buat mereka bisa terdengar jauh lebih keras atau bikin kaget banget.
Petasan punya sifat suara yang mendadak, keras, dan tidak bisa kita tebak kapan munculnya. Gabungan hal ini sering memicu stres pada sistem saraf anak autis. Pas suara itu muncul tiba-tiba, otak anak bisa langsung merespons dengan perasaan ingin lari atau melawan. Gara-gara itu, anak mungkin kasih reaksi seperti
Reaksi ini sebenarnya cara tubuh anak buat melindungi diri mereka dari gangguan yang terlalu kuat bagi mereka.
Baca juga Anak Autis dan Tantangan Perubahan Lingkungan Saat Lebaran
Kalau anak pernah punya pengalaman yang menakutkan soal suara keras, mereka bisa jadi trauma sama suara itu. Trauma ini bikin anak merasa takut bahkan sebelum suara petasannya benar-benar bunyi.
Beberapa anak mungkin jadi sangat waspada pas dengar suara yang mirip petasan, contohnya suara benda jatuh atau suara knalpot kendaraan yang keras. Trauma ini bisa bikin anak merasa tidak aman kalau lagi ada di lingkungan yang ramai.
Anda bisa membantu anak menghadapi rasa takut sama suara petasan dengan beberapa langkah yang pelan-pelan.
Pertama, berikan rasa aman buat anak. Pas anak kelihatan takut, kamu bisa peluk atau temani mereka di tempat yang bikin mereka nyaman. Kedua, jelaskan ke anak pakai bahasa yang gampang dimengerti kalau suara itu asalnya dari petasan atau kembang api.
Ketiga, kalau bisa, kamu gunakan alat bantu kayak headphone atau penutup telinga biar suara yang didengar anak tidak terlalu tajam. Keempat, buat ruangan yang lebih tenang di dalam rumah supaya anak punya tempat buat menenangkan diri pas ada suara petasan di luar. Kelima, coba alihkan perhatian anak pakai kegiatan yang mereka suka, misalnya main bareng, baca buku, atau nonton video yang tenang.
Kadang ada orang yang berpikir kalau anak harus dibiasakan sama suara petasan biar tidak takut lagi. Tapi cara ini tidak selalu berhasil buat anak autis. Memaksa anak hadapi suara yang bikin mereka takut malah bisa bikin rasa takutnya makin parah. Cara yang lebih bagus adalah bantu anak merasa aman dulu sebelum pelan-pelan mengenalkan suara itu di situasi yang lebih bisa dikontrol. Sabar dalam mendampingi itu penting banget buat bangun rasa percaya diri anak.
Sensitivitas sama suara itu bagian dari pengaturan sensorik anak autis. Kalau ada pendampingan yang pas, anak bisa belajar buat mengatur reaksi sensorik mereka jadi lebih baik. Kegiatan terapi yang fokus ke pengaturan sensorik bisa bantu sistem saraf anak jadi lebih stabil. Jadi, mereka tidak terlalu merasa kewalahan pas ada gangguan dari lingkungan sekitar.
Ayah dan Bunda, kalau anak dengan autisme sering merasa takut berlebihan sama suara keras atau susah kontrol emosi pas ada rangsangan dari luar, cara terapi yang tepat bisa membantu menstabilkan sistem saraf mereka.
Medical Hacking punya layanan terapi buat bantu anak dengan berbagai tantangan tumbuh kembang, termasuk soal gangguan sensorik, hiperaktif, susah komunikasi, dan masalah emosi. Oh ya, Medical Hacking juga telah membuka tempat terapi autis jakarta jadi bagi siapa saja yang membutuhkan layanan terapi terkait, silahkan konsultasi langsung bersama medical hacking!!
Kalau Anda ingin tahu kondisi anak lebih dalam dan cari cara yang tepat buat bantu anak mengelola sensitivitas sensoriknya, jangan ragu buat konsultasi. Dengan bantuan yang benar, anak bisa belajar hadapi lingkungan dengan lebih tenang dan merasa aman di mana saja.














