
Terapi autis – Tak semua anak yang terlihat “ceroboh” atau lambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti kurang latian atau kemalasan. Dalam beberapa kasus, kondisi seperti itu bisa berkaitan dengan DCD (Developmental Coordination Disorder) atau Dyspraxia yang merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi koordinasi motorik anak.
Dyspraxia akan membuat anak mengalami kesulitan dalam mengatur, merencanakan, dan melakukan gerakan tubuh secara terkoordinasi. Kondisi tersebut bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari seperti mengancing baju, memegang pensil, menggunakan sendok, dan menjaga keseimbangan tubuh.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh National Health Service (NHS) dan berbagai jurnal perkembangan anak, dyspraxia termasuk gangguan neurologis perkembangan yang cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan bisa berdampak terhadap kemampuan sosial, akademik, hingga kepercayaan diri anak bila tak ditangani dengan tepat.
Baca juga : Benarkah Anak Lahir Prematur Memiliki Risiko Gangguan Integrasi Sensorik?
Dyspraxia merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan perencanaan gerak dan koordinasi motorik. Sebenarnya, anak dengan kondisi seperti ini memahami betul apa yang sebenarnya ingin dilakukan, akan tetapi otak mengalami kesulitan dalam mengirimkan instruksi gerakan secara efektif ke tubuh.
Gangguan tersebut disebabkan oleh kelemahan otot dan banyak anak dengan dyspraxia yang juga memiliki kemampuan berpikir yang baik, namun mengalami hambatan saat melakukan aktivitas fisik tertentu.
Ada beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan jika dyspraxia bisa memengaruhi:
Tak semua gejala dyspraxia sama pada setiap anak, namun beberapa tanda umum yang sering ditemukan meliputi:
Pada usia sekolah, anak juga bisa mengalami kesulitan untuk mengerjakan tugas atau mengikuti aktivitas olahraga yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan.
Hingga kini, apa penyebab pasti dyspraxia masih belum diketahui secara spesifik. Meski ada beberapa penelitian yang menyebutkan jika kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan sistem saraf dan cara otak dalam memproses perencanaan gerakan.
Risiko dyspraxia diketahui lebih tinggi pada:
Anak dengan dyspraxia membutuhkan pendekatan terapi yang bertahap dan konsisten sesuai dengan kebutuhan perkembangan dari masing-masing anak. Oleh karena itu, jangan sembarang memilih tempat terapi. Pilihlah tempat terapi yang benar-benar memahami masalah koordinasi sensorik, motorik, dan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Untuk orang tua yang sedang mencari tempat terapi ABK Pekanbaru, pertimbangkan pula tempat terapi yang memiliki pendekatan yang nyaman dan profesional untuk anak agar proses terapi bisa berjalan lebih optimal.
Di Pekanbaru, Rumah Terapi Medical Hacking menjadi salah satu tempat yang banyak direkomendasikan sebagai rujukan untuk terapi tumbuh kembang anak, termasuk penanganan gangguan sensorik, koordinasi motorik halus, hingga terapi anak berkebutuhan khusus.
Jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti:
Sudah saatnya untuk melakukan evaluasi tumbuh kembang anak. Deteksi dan penanganan sejak dini mampu membantu anak untuk dapat berkembang lebih optimal dan meningkatkan kualitas hidup di masa depan.
Untuk anak dengan dyspraxia maupun masalah tumbuh kembang lainnya, konsultasikan bersama tim ahli Medical Hacking di Pekanbaru sebagai salah satu pilihan yang tepat. Hubungi Medical Hacking dengan klik banner di bawah ini untuk mendapatkan informasi dan konsultasi lebih lanjut.














