
Terapi autis – Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh dengan makna. Namun bagi orang tua dengan anak autis, tantangan bisa terasa lebih berat, terutama saat anak berubah jadi rewel saat sedang berpuasa.
Adanya perubahan jam tidur, jadwal makan, hingga rutinitas harian bisa memengaruhi kestabilan emosi anak autis secara signifikan.
Anak Autis biasanya memiliki kebutuhan akan rutinitas yang konsisten. Apabila pola tersebut berubah seperti harus bangun sahur atau menahan lapar saat berpuasa, tubuh dan sistem sensoriknya harus beradaptasi. Proses adaptasi tersebut sering memicu tantrum, kerewelan, atau peningkatan perilaku repetitif.
Lantas, bagaimana cara menghadapinya?
Baca juga : Cara Menghadapi Anak Autis Tantrum Saat Silaturahmi di Hari Lebaran
Secara logis dan ilmiah, ada beberapa penyebab yang sering terjadi, seperti:
Rasa lapar bisa memengaruhi kontrol emosi dan suasana hati pada anak autis.
Bangun sahur akan mengurangi jam istirahat, sementara pada anak autis ada yang memiliki gangguan tidur.
Saat tubuh lapar atau lelah, respons terhadap cahaya, suara, atau sentuhan bisa jadi lebih intens.
Apabila anak belum sepenuhnya memahami apa saja alasan menahan haus dan lapar, mereka bisa merasa bingung atau frustrasi.
Sebaiknya pahami terlebih dahulu penyebabnya agar dapat membantu orang tua untuk bersikap lebih tenang dan tak langsung menganggap anak Anda “bermasalah”
Anak autis sangat peka terhadap emosi orang tua. Respons yang tenang dan konsisten akan membantu anak untuk merasa lebih aman.
Buatkan jadwal sederhana dengan gambar untuk menjelaskan waktu sahur, aktivitas siang, dan saat berbuka. Visual akan membantu anak dalam memahami jika puasa itu memiliki batasan waktu yang jelas.
Berikan makanan yang tinggi protein dan cukup cairan agar energi anak jadi lebih stabil sepanjang hari.
Alihkan perhatian anak dengan memberikan kegiatan ringan seperti membaca buku bergambar, menggambar, atau bermain sensori yang tak begitu menguras energi anak.
Apabila anak sudah merasa sangat lelah atau emosinya yang sudah mulai tidak terkontrol, jangan paksakan anak untuk melanjutkan puasa karena kesehatan fisik dan mental anak autis tetap jadi prioritas utama.
Adanya perubahan rutinitas seperti Ramadan kerap kali menjadi momen untuk evaluasi para orang tua.
Dengan terapi yang tepat akan membantu anak untuk:
Untuk orang tua yang sedang mencari terapi ABK Bekasi, Rumah Terapi Medical Hacking bisa dijadikan tempat pendampingan yang tepat untuk anak autis dan gangguan tumbuh kembang lainnya.
Rumah Terapi Medical Hacking di Bekasi hadir dengan pendekatan terapi yang alami dan terstruktur tanpa efek samping. Program terapi dirancang secara personal dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan unik dari masing-masing anak.
Pendekatan yang konsisten dan menyeluruh akan membantu anak agar lebih siap dalam menghadapi perubahan rutinitas seperti puasa, sehingga Ramadan bisa dijalani dengan rasa yang jauh lebih nyaman.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Medical Hacking dengan klik banner di bawah ini.
Menghadapi anak autis yang rewel saat puasa akan terasa lebih melelahkan. Namun setiap proses yang dilalui menjadi bagian dari pembelajaran, bukan hanya bagi anak, melainkan juga bagi orang tua.
Percayakan pada Medical Hacking, dengan pendampingan yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, anak autis akan terus berkembang sesuai dengan potensi terbaik yang ada dalam dirinya. Teruslah menjadi versi terbaik bagi buah hati tercinta.














