
Terapi autis – Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap tubuh mereka perubahan lingkungan. Pada saat menjalani puasa, ada beberapa dampak perilaku yang bisa terjadi, seperti:
Kekurangan energi yang disebabkan berpuasa bisa memicu anak jadi frustasi. Mungkin anak akan merasa lebih cepat marah, menangis, atau menunjukkan perilaku repetitif (stimming) sebagai cara mereka untuk menenangkan diri.
Anak autis akan cenderung sulit untuk mempertahankan fokus. Ketika tubuh merasa lelah atau perut terasa lapar, kemampuan dalam mengikuti aktivitas belajar atau instruksi akan menurun.
Lapar atau tubuh yang merasa lelah akan membuat nak jadi peka terhadap suara keras, rangsangan, cahaya, atau tekstur pakaian dan makanan.
Kegiatan malam (tarawih) dan bangun sahur bisa mengurangi waktu tidur anak. Kurang tidur bisa memperburuk perilaku dan kestabilan emosi anak sepanjang hari.
Baca juga : Cara Melatih Anak Autis agar Tahan Berpuasa Seharian Selama Bulan Ramadhan
Menghadapi perubahan perilaku tersebut, sebagai orang tua sebaiknya melakukan beberapa langkah, seperti:
Anak autis biasanya sensitif terhadap emosi orang tua. Reaksi tenang akan membantu anak untuk merasa tenang.
Memberikan panduan bergambar tentang waktu sahur, puasa, dan berbuka akan membuat anak jadi merasa lebih memahami rutinitas yang dilakukan.
Pastikan menu sahur dan berbuka mencukupi protein, energi, dan cairan agar anak tetap merasa bugar.
Buatkan waktu tenang atu sensory break untuk menenangkan diri apabila anak sudah tampak rewel atau lelah.
Bila anak Anda belum siap, latihlah anak secara bertahap atau setengah hari menjadi langkah bijak.
Puasa itu bukan hanya soal menahan lapar saja, tetapi juga melibatkan fokus, regulasi emosi, dan adaptasi terhadap perubahan rutinitas, untuk semua aspek tersebut bisa dilatih melalui terapi yang tepat.
Untuk orang tua yang sedang mencari tempat terapi ABK Bekasi, Rumah Terapi Medical Hacking merupakan tempat yang tepat untuk pendampingan secara profesional dan alami tanpa efek samping, dengan program terapi yang dapat disesuaikan dengan kondisi unik dari tiap anak. Pendampingan terapi akan membantu:
Dengan bantuan terapi yang dilakukan secara konsisten, anak autis bisa menjalani bulan Ramadan dengan lebih stabil, nyaman, dan tetap berkembang sesuai dengan potensi yang ada dalam dirinya.
Untuk orang tua yang ingin mendapatkan pendampingan untuk anak autis, silahkan hubungi Medical Hacking dengan klik banner di bawah ini.
Melihat anak autis rewel, sulit fokus, dan cepat lelah saat berpuasa memang membuat hati orang tua jadi gelisah. Namun, setiap tantangan merupakan kesempatan untuk belajar bersama.
Hal yang perlu diingat, jika anak autis itu bukan “kurang”, mereka hanya memproses dunianya dengan cara yang berbeda. Dengan konsistensi, kesabaran, dan dukungan yang tepat, anak autis tetap bisa tumbuh, belajar, dan menemukan ritme mereka sendiri.
Untuk orang tua dengan anak autis, Anda tak sendiri. Karena setiap langkah kecil yang Anda lakukan hari ini menjadi fondasi yang besar untuk masa depan anak. Jadi, tetaplah bersabar, percaya, dan rayakan setiap pencapaian anak sekecil apap pun itu.














