
Tempat pengobatan autis anak - Bulan puasa biasanya jadi waktu yang spesial buat keluarga. Tapi untuk orang tua yang punya anak autis, keadaan ini bisa jadi lebih sulit. Sering kali kita lihat anak menangis, marah-marah (tantrum), atau sampai meltdown karena sedang menahan lapar.
Kita harus cari tahu, apakah ini cuma karena lapar saja? Atau ada alasan lain yang lebih dalam di dalam tubuh mereka? Ternyata, menangis saat lapar pada anak autis bukan cuma soal perut kosong, tapi ada hubungannya dengan sistem saraf dan perasaan mereka yang berbeda dari anak lain.
Anak-anak dalam spektrum autisme punya sistem saraf yang lebih sensitif. Mereka sangat merasakan perubahan di dalam tubuh, contohnya saat gula darah turun karena belum makan. Saat lapar, energi mereka turun dan ini bisa membuat anak jadi:
Sangat cepat marah dan rewel.
Susah untuk fokus pada sesuatu.
Lebih sensitif terhadap suara atau cahaya.
Emosinya jadi meledak-ledak.
Kalau sistem saraf anak belum stabil, rasa lapar itu dianggap oleh otaknya sebagai sesuatu yang mengancam atau berbahaya. Akhirnya anak merasa tertekan dan menangis karena itu cara mereka menunjukkan rasa tidak nyaman yang hebat.
Ada hal yang namanya interosepsi. Ini adalah kemampuan tubuh untuk tahu kapan kita merasa lapar, haus, atau capek. Banyak anak autis yang punya gangguan di bagian ini. Mereka mungkin tidak sadar kalau lapar sampai akhirnya rasa laparnya sudah sangat ekstrem atau sampai sakit sekali.
Karena rasa laparnya muncul tiba-tiba dan terasa sangat kuat, anak jadi bingung dan tidak tahu cara bicaranya. Karena mereka tidak bisa bilang "aku lapar", akhirnya mereka menangis. Ada juga anak yang merasa sangat cemas hanya karena merasakan perutnya kosong sedikit saja.
Puasa itu bukan cuma tidak makan, tapi juga belajar menahan keinginan. Kalau anak belum paham soal konsep waktu atau belum bisa menunda kemauan, menahan lapar jadi beban yang sangat berat buat mental mereka. Tanda kalau tangisan itu karena emosi yang belum siap adalah
Kalau kondisinya sudah seperti ini, memaksa anak untuk terus puasa malah bisa membuat emosi mereka makin tidak stabil ke depannya.
Banyak orang tua bingung. Mau ajarkan ibadah sejak kecil, tapi tidak tega lihat anak stres. Kita harus tahu kalau kesiapan setiap anak autis itu beda-beda. Tidak semua anak siap puasa penuh kalau sistem saraf atau metabolismenya belum kuat. Sangat disarankan untuk mencoba cara bertahap, misalnya
Coba latih anak tidak makan camilan selama 1 sampai 2 jam dulu.
Pelan-pelan buat jarak jam makan jadi lebih lama.
Lihat bagaimana reaksi emosi anak di setiap tahapnya.
Kalau anak selalu menangis parah setiap lapar, itu tandanya tubuh dan saraf anak memang butuh diperkuat dulu sebelum belajar puasa lebih jauh.
Kita tidak boleh sembarangan menganggap anak menangis itu karena "manja" atau "tidak mau belajar". Ada banyak faktor medis dan tubuh yang berpengaruh, seperti:
Kadar gula darah yang tidak seimbang.
Hubungan antara kesehatan usus dan emosi (gut-brain axis).
Sistem saraf yang belum stabil.
Anak belum paham kalau lapar itu akan hilang saat waktu buka nanti.
Melakukan evaluasi atau konsultasi ke tempat yang tepat bisa membantu orang tua tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terapi yang menyeluruh bisa membantu menstabilkan saraf dan emosi anak supaya mereka lebih tenang.
Baca juga Cara Mengetahui Apakah Anak Autis Sudah Siap Ikut Berpuasa
Ayah dan Bunda, kalau anak Anda menangis hebat, tantrum lama, atau sifatnya berubah total saat jadwal makannya bergeser, jangan langsung memarahi anak. Bisa jadi memang tubuh dan sarafnya belum sanggup menahan itu.
Setiap anak punya waktu perkembangan yang berbeda-beda. Kalau Anda merasa bingung menghadapi anak yang seperti ini, tidak ada salahnya untuk minta bantuan atau konsultasi. Dengan bantuan yang benar, belajar puasa bisa jadi hal yang tenang dan tidak membuat anak atau orang tua jadi stres stres.














