Tempat terapi sakit jantung jakarta dan pekanbaru - Down Syndrome adalah kondisi genetik yang terjadi akibat kelainan pada jumlah kromosom seseorang. Kondisi ini bukan penyakit yang bisa menular, melainkan sebuah kondisi bawaan sejak lahir. Setiap manusia biasanya memiliki 46 kromosom yang terbagi menjadi 23 pasang, namun pada individu dengan Down Syndrome, terdapat kelebihan satu salinan kromosom 21 sehingga jumlah totalnya menjadi 47 kromosom. Lalu, bagaimana sebenarnya proses ini terjadi? Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Kromosom adalah struktur kecil yang terdapat di dalam inti sel dan berisi DNA atau materi genetik yang mengatur perkembangan serta fungsi tubuh kita. Setiap orang mewarisi setengah kromosom dari ayah dan setengahnya lagi dari ibu. Pada individu dengan Down Syndrome, terjadi kelebihan salinan kromosom nomor 21, yang mengganggu perkembangan tubuh dan otak.
Kelebihan kromosom ini mengakibatkan berbagai karakteristik fisik khas, seperti wajah yang bulat, mata yang sipit ke atas, serta tonus otot yang lebih lemah. Selain itu, individu dengan Down Syndrome juga memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan tertentu, seperti penyakit jantung bawaan, gangguan pencernaan, dan gangguan penglihatan.
Ternyata, Down Syndrome tidak hanya satu jenis saja. Ada tiga tipe utama Down Syndrome, yaitu
Trisomi 21: Merupakan jenis yang paling umum, terjadi pada sekitar 95% kasus. Pada kondisi ini, setiap sel dalam tubuh memiliki tiga salinan kromosom 21.
Translokasi: Jenis ini terjadi ketika bagian dari kromosom 21 melekat pada kromosom lain, biasanya kromosom 14. Meski jumlah kromosom tetap 46, ada kelebihan materi genetik dari kromosom 21 yang menyebabkan karakteristik Down Syndrome.
Mosaik: Jenis ini lebih jarang terjadi, hanya sekitar 1-2% kasus. Pada kondisi ini, sebagian sel memiliki tiga salinan kromosom 21, sementara sebagian lainnya memiliki jumlah kromosom normal.
Penyebab pasti mengapa Down Syndrome bisa terjadi belum sepenuhnya diketahui, namun para ilmuwan sepakat bahwa faktor utama adalah kesalahan pembelahan sel saat proses pembentukan sperma atau sel telur. Kesalahan ini disebut sebagai nondisjunction, di mana kromosom gagal berpisah dengan benar.
Faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya Down Syndrome antara lain usia ibu yang lebih tua saat hamil, meskipun kasus ini juga bisa terjadi pada ibu yang lebih muda. Selain itu, ada faktor genetik tertentu yang bisa meningkatkan risiko Down Syndrome, terutama pada jenis translokasi.
Namun, penting untuk diingat bahwa Down Syndrome bukanlah kesalahan orang tua. Ini adalah kejadian genetik yang terjadi secara alami, dan tidak dapat dicegah sepenuhnya.
Anak dengan Down Syndrome bisa tumbuh dan berkembang dengan baik jika mendapatkan dukungan yang tepat. Mereka bisa belajar, bersekolah, bahkan bekerja, tergantung pada tingkat perkembangan dan dukungan yang diberikan. Banyak individu dengan Down Syndrome yang memiliki kehidupan sosial yang aktif serta mampu menjalani kehidupan mandiri dengan bantuan dan bimbingan yang tepat.
Dalam beberapa dekade terakhir, harapan hidup individu dengan Down Syndrome meningkat pesat berkat perawatan medis yang lebih baik dan kesadaran masyarakat yang semakin tinggi. Mereka bisa menjalani terapi fisik, terapi wicara, serta pendidikan inklusif yang membantu mereka mencapai potensi maksimalnya.
Down Syndrome terjadi karena adanya kelebihan kromosom 21 yang menyebabkan perbedaan dalam perkembangan fisik dan intelektual seseorang. Meski demikian, dengan dukungan keluarga, pendidikan yang baik, serta lingkungan yang inklusif, individu dengan Down Syndrome tetap bisa menjalani kehidupan yang bahagia dan bermakna. Semoga penjelasan ini membantu kamu memahami Down Syndrome dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami!
Baca juga Faktor Genetik dan Lingkungan yang Berkontribusi pada Down Syndrome
Punya masalah dengan proses tumbuh kembang anak? Apakah anak mengalami Celebral Palsy, Gangguan Bicara dan Bahasa, Autism, Down Syndrome, Perawakan Pendek, Retardasi Mental, Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau GPPH, Hidrocephalus, Poliomyelitis atau polio, Lupus, Poliomyelitis atau Polio, Lupus, Skoliosis, Epilepsi, Lumpuh Layu. Anak Yang Terlambat Bicara, Anak Yang Terlambat Berjalan, Anak Yang Tidak Keluar Suara atau lainnya? Segera hubungi Medical Hacking melalui
Website: medicalhacking.co.id
Konsultasi: +6282297289899